Detektor Epilepsi Mudahkan Penanganan

Posted by System 16/07/2019 0 Comment(s) General,

 

Sulitnya penanganan dan minimnya pengetahuan masyarakat tentang penyakit epilepsi, membuat Rotary Club Semarang Sentral mengelar aksi sosial dengan memberikan alat pendeteksi letak saraf penyebab penyakit tersebut.


”Alat tersebut merupakan alat pendeteksi untuk menentukan lokasi kejang pada penyakit epilepsi dengan tepat dan akurat sehingga dapat membantu diagnosis operasi pada otak. Nama alat tersebut yaitu Electro Encephalograph Long Term,” ujar Hadi Kumala Ketua Rotary Club Semarang Sentral usai seminar Rotary Club Distrik 3420 di salah satu swalayan di Kota Semarang, Minggu (15/2).


Dikatakannya, Rotary Club Semarang Sentral sebagai koordinator project peningkatan pengobatan untuk penyakit epilepsi di Indonesia yang saat ini penderitanya mencapai 2 juta jiwa.


Dijelaskannya, Rotary Club Tokyo Asakusa Jepang dalam hal ini bertindak sebagai International Sponsor pembuatan alat itu. Sedangkan The Rotary Foundation of Rotary International bertindak sebagai pendukung dana.


Sementara itu, anggota Rotary Club Semarang Sentral yang lain, Agus Suryo Winanto mengatakan, dengan adanya alat Electro Encephalograph Long Term itu merupakan sebuah kemajuan teknologi dan dapat membantu penderita epilepsi yang kebal terhadap obat (Refracter) dapat disembuhkan dengan operasi otak.


Dikatakan, alasan dipilihnya RSUP dr Kariadi sebagai penerima bantuan alat canggih tersebut dikarenakan RSUP tersebut kini telah menjadi rujukan tingkat nasional. Selain itu, alat tersebut memang diperuntukkan untuk membantu pasien yang kurang mampu dalam hal sisi perekonomiannya. ”Alat cuma satu di Indonesia dan RSUP Kariadi beruntung bisa mendapatkan alat itu. Jika dirupiahkan harga alat itu senilai Rp 2 miliar,” katanya.


Sementara itu, Prof Dr Zainal Muttaqin SpBs PhD yang merupakan ahli saraf di RSUP dr Kariadi mengatakan, pada prinsipnya proses kerja alat tersebut sangat sederhana. Pasien penderita epilepsi dideteksi menggunakan alat itu, dari situ diketahui saraf mana yang bermasalah dan akan dilakukan tindakan operasi. ”Memang selama ini alat detektor itu belum ada di Indonesia, ini baru pertama kali,” tuturnya.